ありがとう ございます

Kamis, 13 Januari 2011

Nasionalisme Jepang


Nasionalisme Jepang


  1. Masa Keshogunan
    Sejak pemerintahan Shogun Tokugawa (pada abad ke-17), Jepang
    melakukan politik isolasi (artinya menarik diri dari pengaruh asing–Barat).
    Politik isolasi ini mulai dijalankan oleh Iyeyashu Tokugawa (1639) dan
    diteruskan oleh para penggantinya. Tujuan politik isolasi untuk menjamin
    tetap tegaknya pemerintahan Shogun dan mencegah masuknya pengaruh
    asing (Barat).
    Selama Jepang menutup diri, dunia Barat terus melaju pesat dengan
    industri dan teknologinya. Untuk itu bangsa-bangsa Barat membutuhkan
    daerah pasaran hasil industri. Amerika Serikat, merupakan salah satu bangsa
    Barat yang ingin masuk ke Jepang untuk membuka hubungan dagang.
    Pada tahun 1846, Amerika Serikat mengirimkan
    utusannya ke Jepang di bawah pimpinan Laksamana
    Biddle, tetapi ditolak oleh Shogun. Pada tahun 1853,
    mengirimkan lagi utusannya lengkap dengan kapal
    perangnya di bawah pimpinan Matthew Commodore
    Perry. Perry menghadap Shogun dan meminta agar
    Jepang mau membuka kota-kota pelabuhannya untuk
    perdagangan internasional.
    Pemerintah Jepang minta
    waktu untuk memikirkan permintaan Amerika Serikat.
    Perry beserta rombongan kembali ke Amerika.
    Pada tahun 1854, rombongan Perry lengkap dengan
    tujuh kapal perangnya mendarat lagi di Yedo, dan
    berhasil memaksa Shogun Iyesada (1853–1858) untuk
    menandatangani Perjanjian Kanagawa (31 Maret 1854)
    yang isinya kota pelabuhan Shimoda dan Hokodate
    dibuka untuk perdagangan asing. Dengan demikian, runtuhlah politik isolasi
    Jepang sehingga negara tersebut terbuka untuk bangsa asing.
    Sejak saat itu, Jepang menyadari akan ketinggalannya dengan bangsabangsa
    Barat. Yang menjadi sasaran kemarahan rakyat Jepang ialah
    pemerintahan Shogun. Yoshinobu dipaksa turun takhta dan menyerahkan
    kekuasaannya kepada Kaisar Mutsuhito (Kaisar Meiji) pada tanggal 8 September
    1867. Secara resmi Kaisar Meiji memerintah Jepang dari tanggal
    25 Januari 1868 sampai dengan 30 Juli 1912.
    b. Nasionalisme Jepang
    Terbukanya Jepang bagi bangsa asing yang disusul dengan runtuhnya
    kekuasan Shogun dan tampilnya Kaisar Meiji (Meiji Tenno), menandai
    bangkitnya nasionalisme Jepang. Pada tanggal 6 April 1868, Meiji Tenno
    memproklamasikan Charter Outh (Sumpah Setia) menuju Jepang baru
    yang terdiri atas lima pasal, seperti berikut.
    1) Akan dibentuk parlemen.
    2) Seluruh bangsa harus bersatu untuk mencapai kesejahateraan.
    3) Adat istiadat yang kolot dan yang menghalangi kemajuan Jepang harus
    dihapuskan.
    4) Semua jabatan terbuka untuk siapa saja.
    5) Mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak mungkin untuk pembangunan
    bangsa dan negara.
    Untuk mencapai cita-cita tersebut maka Meiji Tenno melaksanakan
    pembaharuan (restorasi). Itulah sebabnya Kaisar Meiji kemudian dikenal
    dengan Meiji Restorasi. Restorasi yang dilakukan meliputi segala bidang,
    yakni politik, ekonomi, pendidikan dan militer.
    1) Bidang Politik
    Langkah pertama yang diambil oleh Meiji Tenno ialah memindahkan
    ibu kota dari Kyoto ke Yedo yang kemudian diganti menjadi
    Tokyo (yang berarti ibu kota timur). Selanjutnya, diciptakan bendera
    kebangsaan Jepang Hinomoru dan dan lagu kebangsaan Jepang,
    Kimigayo. Shintoisme dikukuhkan sebagai agama nasional.
    Jabatan shogun dan daimyo dihapuskan (1868) dan samurai
    dibubarkan. Para daimyo kemudian diangkat menjadi pegawai negeri,
    sedangkan para samurai dijadikan tentara nasional. Di bawah pimpinan
    Ito Hirobumi (kemudian dikenal Bapak Konstitusi Jepang) pada tahun
    1889 berhasil disusun konstitusi Jepang.
    2) Bidang Ekonomi
    Pembangunan di bidang
    ekonomi, meliputi bidang
    pertanian, perindustrian,
    dan perdagangan,
    namun yang paling berhasil
    di bidang perindustrian dan
    perdagangan. Perdagangan
    Jepang maju pesat berkat dumping policy. Di bidang industri muncul
    golongan baru yang disebut Zaibatsu yang terdiri atas keluarga Mitsui,
    Mitsubishi, Sumitomo, dan Jassuda.
    3) Bidang pendidikan
    Sistem pendidikan di Jepang meniru sistem pendidikan Barat.
    Dasar moral yang diajarkan di semua sekolah ialah Shintoisme dan
    Budhisme. Pada tahun 1871, dibentuklah Departemen Pendidikan.
    Selanjutnya pada tahun 1872 dikeluarkan Undang-Undang Pendidikan
    yang mewajibkan belajar untuk anak-anak umur 6–14 dan bebas uang
    sekolah. Sistem pendidikannya semimiliter.
    4) Bidang Militer
    Dalam pembaharuan angkatan perang yang mempunyai peranan
    besar ialah keluarga Choshu dan Satsuma. Keluarga Choshu menangani
    pembaharuan Angkatan Darat dengan mencontoh Prusia (Jerman),
    sedangan keluarga Satsuma menangani pembaharaun Angkatan Laut
    dengan mencontoh Inggris. Bersamaan dengan modernisasi angkatan
    perang ini dihidupkan kembali ajaran bushido sebagai jiwa kemiliteran.
    c. Jepang Muncul sebagai Negara Imperialis
    Restorasi telah berhasil mengangkat harkat dan martabat bangsa dan
    negara Jepang. Jepang menjadi negara maju, modern, dan sejajar dengan
    negara-negara Barat. Hal ini kemudian menimbulkan ambisi untuk melakukan
    imperialisme seperi negara-negara Barat. Tahukah Anda faktor-faktor
    yang mendorongnya?
    1) Adanya pertambahan penduduk yang cepat.
    2) Adanya perkembangan industri yang begitu pesat, butuh daerah pasaran
    dan bahan mentah.
    3) Adanya pembatasan migran Jepang yang dilakukan oleh negara-negara
    Barat.
    4) Pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u (dunia sebagai keluarga),
    di mana Jepang terpanggil untuk memimpin bangsa-bangsa di dunia
    (Asia-Pasifik).
    Ambisi imperialisme Jepang menyebabkan Jepang terlibat dalam
    peperangan. Untungnya, dalam setiap peperangan Jepang selalu mendapatkan
    kemenenangan. Perang Cina–Jepang I (1894–1895)
    dimenangkan oleh Jepang dan diakhiri dengan Perjanjian Shimonoseki
    (1895). Hasilnya, Jepang memperoleh Kepulauan Pescadores dan Taiwan.
    Perang Rusia–Jepang (1904–1905) dimenangkan oleh pihak Jepang dan
    diakhiri dengan Perjanjian Portsmouth (1905). Hasilnya Jepang mendapatkan
    Shakalin Selatan dan menggantikan posisi Rusia di Manchuria.
    Kemenangan Jepang ini memberikan pengaruh yang besar bagi tumbuhnya
    nasionalisme di negara-negara Asia dan Afrika.
    Dalam Perang Dunia I, Jepang juga ikut terlibat perang dan memihak
    kepada Sekutu. Jepang berhasil menyapu pasukan-pasukan Jerman di Cina
    ataupun di Pasifik. Itulah sebabnya setelah perang berakhir dengan kekalahan
    di pihak Jerman, Jepang memperoleh daerah bekas jajahan Jerman, seperti
    Shantung (di Cina), Kepulauan Marshal, Mariana, dan Caroline (di Pasifik).
    Dengan demikian, sampai dengan berakhirnya Perang Dunia I, Jepang
    telah berhasil menguasai banyak daerah.
    Jepang telah muncul menjadi negara
    besar (the great powers).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar